Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan

UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat

Alamat : Jalan Bukit Dago Selatan No. 53 A

Telepon : (022) 2504912 - Fax : (022) 2514368

Email : email@uptdkebudayaan.jabarprov.go.id

- Taman Budaya, Museum Sri Baduga, Tugu Monumen Perjuangan, Gedung Kesenian Rumentang Siang, Pengembangan Psat Kebudayaan, Gedung Indonesia Menggugat, Rumah Inggit Garnasih, Pondok Seni, Rumah Angklung. -

Konten Berita

Mereka Belajar Bikin Bedak "Kansai" Ala Inggit

Posted on Mar 09, 2017

Bandung, 8 Maret 2017

Sumber Berita : Retno Heriyanto (Pikiran Rakyat)



Mereka Belajar Bikin Bedak "Kansai" Ala Inggit 



     Hingga awal tahun 1980-an, bedak dan pendingin wajah "Kansai" sangat beken di kalangan remaja putri serta perempuan dewasa Kota bandung dan Sekitarnya. Perempuan lanjut usia pun ingin memulas wajah mereka memakai bedak atau pendingin wajah "Kansai".

"Saya masih ingat, begitu pagi datang, orang-orang datang silih berganti datang ke sini untuk beli jamu buatan Ibu (sebutan Inggit Garnasih). Mulai dari bedak, kasat untuk jerawat, ningrum untuk menghaluskan kulit, hingga jamu seduh untuk peranakan, dan kewanitaan," ujar Tito Zeni Asmarahadi (65), anak ke-4 dari 6 bersaudara pasangan Ratna Djuami dan Asmarahadi. Ratna adalah anak angkat Inggit Garnasih dan Soekarno.

Hal itu dilontarkan Tito saat pelatihan membuat jamu tradisional ala Ibu Inggit Garnasih, Rabu (8/3/2017), di teras belakang Rumah Bersejarah Inggit Garnasih, Jalan Inggit Garnasih (dulu Jalan Ciateul No. 8) Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung. Acara digelar berkat kerjasama Balai Pengelolaan Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga dengan Komunitas API Bandung.

Tito masih ingat masa remajanya di Jalan Ciateul No.8 Dia kerap menemani neneknya hingga larut malam. "Meski sudah sepuh, tenaganya seakan tidak pernah habis untuk mengolah berbagai jamu. Beres salat Subuh terus mengolah jamu hingga menjelang salat malam," ujarnya.

Inggit mulai rajin membuat jamu sejak menikah dengan Soekarno (24 Maret 1923).' Hasil penjualan jamu tak hanya untuk menyambung biaya hidup sehari-hari. Sebagiannya juga dipakai membiayai pergeraan dan sekolah Soekarno yang saat itu berkuliah di THS (Technische Hoogeschool, sekarang ITB) hingga lulus tahun 1926. Saat Soekarno, Gatot Mangkupradja, dan Maskoen Somadiredja dijebloskan ke Lapas Banceuy pada 29 Desember 1929, Inggit kian sibuk. Tidak hanya bikin jamu. "Menurut cerita Ibu (Ratna Djuami), selain bikin jamu, nenek juga bikin rokok linting (klobot), serta kutang atau apok. Hasilnya untuk membiayai proses persidangan", ujar Tito. Hal yang tidak pernah dilupakan Tito, dari sejumlah produk jamu bikinan Inggit ialah jamu bermerek "Kansai". Jamu "Kansai" banyak diburu para gadis karena diyakini dapat menghaluskan dan memutihkan kulit.

"Tak sembarang orang bisa bikin jamu tradisional perawatan wajah. Bahan-bahan seperti beras dan ramuan rempah pilihan yang dipakai. Prosesnya bisa dua hari dua malam. Itu setelah digiling pakai batu pipisan berukuran 50cm x 30cm. Tidak setiap orang bisa mengoperasikannya", ujar Tito.

Inggit mendapat keahlian membuat jamu dari orang tuanya (Arjipan dan Amsi) serta RM Soemosewojo (kerabat dekat Soekarno). Kala itu, Soemosewojo sering berkunjung ke Bandung, lalu berbagi resep bedak dan jamu. 

Acara kemarin mendapat sambutan luar biasa. Puluhan ibu dari sejumlah kelompok dan komunitas memenuhi sudut ruang hingga meluber ke teras depan dan belakang. "Mereka umumnya penasaran dengan jamu buatan Inggit yang mereka ketahui dari cerita orang tuanya. Karena waktu dan tempat terbatas, jamu yang dibikin hari ini ialah yang umum dan masih sesuai kondisi sekarang. Bahannya pun yang mudah didapat, seperti beras kencur, kunyit, jahe", ujar Leli Mei, seorang instruktur dari Komunitas Api Bandung. 

Para peserta berharap, kegiatan seperti itu digelar rutin. Mereka juga meminta agar ajaran Inggit tentang wanita sunda dapat diajarkan kembali.


- Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga -



Klik Album





     

Video

Kepala UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat


Drs. ERICK HENRIANA, M.Si
NIP : 19641120 199002 1 001

Profil Pejabat Dinas

Statistik Web

Jumlah Pengunjung :

Alamat IP Anda

Paduan Suara

Museum di Hatiku